Reblog : “Antara Ayah dan Pak Dahlan….” by @WisnuDewobroto

Sebuah ungkapan hati seorang anak kepada Ayah nya. Sebuah ketenangan dalam keluarga tiba-tiba berubah menjadi ketegangan dan menjadi sorotan media massa cetak maupun elektronik.

Antara Ayah dan Pak Dahlan….
By : @WisnuDewobroto

Alhamdulillah, weekend akhirnya sampai juga. Saatnya saya bisa meluangkan waktu untuk keluarga (Istri dan putri saya yang cantik cantik) dan untuk diri sendiri.

Alhamdulillah hari ini juga saya sudah bisa menyelesaikan proposal disertasi S3 yang sempat saya pending sejak tahun 2010 dan sidangnya akan dilangsungkan tanggal 28 November ini. Bersyukur tiada henti.
Namun disisi lain ada yang mengganjal..

seminggu ini kepala saya juga dipenuhi oleh berita Dahlan Iskan VS DPR. Ya.. berita itu yang mengganjal. Nama Ayah saya disebut Pak Dahlan dituduh sebagai pemeras BUMN?

Berita yang sangat mengejutkan. Kami sekeluarga sama sekali tidak pernah menduga. Ayah sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia politik. Beliau 3 periode berturut-turut menjadi anggota DPR. Selama ini, tidak ada peristiwa apapun yang melibatkan ayah dan menjadi perhatian keluarga.

Namun inisial S yang dilaporkan Dahlan Iskan seakan mengubah segalanya. Keluarga kami berubah penuh tanda tanya. Kedamaian yang selama ini selalu terjaga, kini seakan terusik oleh hal yang tidak jelas bentuknya.

Apalagi kalau membaca dan menonton media massa. Wow, isinya luar biasa. Seolah-olah ayah sudah diketuk palu hakim, “Terbukti bersalah!” Banyak wartawan mendatangi rumah, perusahaan dan tempat lain yang biasa kami ada. Mereka seperti ‘meneror’ dengan sorot mata telisik, kuping dilebarkan dan kadang pertanyaan-pertanyaan dilontarkan seperti menuduh.

Lihatlah isi beritanya. Judulnya membuat kepala pusing tujuh keliling. Foto ayah terpampang dengan jelas. Dia bagaikan pesakitan. Perusahaan keluarga kami dicurigai, rumah keluarga ditelusuri, bahkan karyawan kami yang tidak tahu apa apa juga disambangi. “Bad news is a good news” sungguh ampuh memacu adrenalin kawan-kawan media. Padahal, semuanya hanya duga menduga. Belum pasti kebenarannya. Yah…, mungkin juga karena itu perasaan ‘lebay’ saya. Maklumlah kami bukan keluarga ‘artis’ yang biasa menerima hal hal seperti itu semua.

Perusahaan keluarga kami sudah berdiri sejak tahun 1978, jauh sebelum ayah berpolitik praktis. Orang tua kami bangun dengan kerja keras. Bahkan saya masih ingat kantor kecil di dalam rumah yang mempunyai satu komputer dan segelintir karyawan. Ya! Saya ingat sekali kita memulai usaha dari bawah. Saya juga sering mendengar sekaligus belajar dari Ayah dan Ibu mengenai bagaimana jatuh bangunnya membangun usaha. Ini juga yang mungkin membuat saya menjadi seorang dosen dan pembicara di bidang “Entrepreneurship” sekarang.

Ayah mengajari kami kejujuran dalam bekerja, dalam belajar dan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti Ibu bercerita dan selalu saya ingat, modal bisnis kami adalah kepercayaan, sehingga mendapatkan kucuran bantuan kredit dari sejumlah bank. Ayah tak pernah melibatkan perusahaan (dan keluarganya) dalam politik praktis. Tidak juga terhadap saya, anak laki-laki satu-satunya dari 5 bersaudara. Kalau beliau mau, tentu bisa.
Ayah dekat dengan banyak pejabat. Beliau akrab dengan sejumlah petinggi. Peluang kongkalikong untuk memperkaya diri dan keluarganya, terbuka sangat lebar. Tinggal telepon, sms, bbm atau ajak bersua, semua urusan bisa selesai. Tapi ayah tidak.
Semenjak menjadi anggota DPR, ayah lebih menyerahkan usahanya kepada keluarga. Setiap anak anaknya diberi tanggung jawab dengan Ibu sebagai komandonya.

Dibiarkannya usaha keluarga berjalan sendiri, ayah sebagai  ‘wasit’nya. Bisnis keluarga dijauhkannya dari dunia politik. Untuk karier, beliau pun membiarkan anak-anaknya memilih jalan sendiri-sendiri. Sesekali saya dikenali dunia politik, namun sampai sekarang saya memilih untuk berbisnis, menjadi dosen, dan menjadi pembicara serta berkegiatan sosial.
Di rumah, ayah jarang sekali berdiskusi soal politik. Kepada saya, beliau lebih sering memberi nasihat kehidupan bukan politik.

Nasihat-nasihatnya amat sesuai dengan nilai luhur kehidupan sehingga saya pegang teguh sampai sekarang. Oh ya selain tidak membawa masalah politik ke rumah, ayah juga tidak pernah membawa uang politik ke rumah. Gajinya dikembalikan untuk ongkos politiknya dan dipastikan digunakan untuk kepentingan bersama, bukan pribadi, saya tau pasti itu. Tak ada untuk keluarga.

Semua kebutuhan keluarga, hingga waktu itu saya dan adik bisa sekolah keluar negeri adalah semua berkat hasil usaha yang dibina oleh ayah dan ibu.
Jadi bagaimana mungkin sosok yang seperti itu menjadi ‘pesakitan’ dan dituduh pemeras BUMN (koruptor). Setahu saya, ayah amat tegas dalam banyak hal.

Pengetahuannya ‘sangat sangat’ tajam dalam hal keuangan. Pengalaman memimpin perusahaan sudah tidak ada tandingannya lagi. Sering kita melakukan rapat bersama dan ayah selalu mengetahui hal yang detail mengenai performa perusahaan. Ayah tidak perlu waktu lama untuk melihat kinerja perusahaan, hanya 5 menit membolak balik laporan keuangan, saat itu dia tau apa yang harus diputuskan. Dibanding saya, perlu mungkin 3 hari untuk mempelajarinya.

Saya menduga, mungkin sifat kritis itu yang membuat ayah vokal terhadap kinerja  Merpati. Bisa jadi ke-vokal-an ini dimanfaatkan dan menjadi boomerang.

Dari surat kabar dan twitter, saya mengetahui banyak kebijakan Merpati yang dikritiknya. Hmm.. Saya yakin, langkah kritis ayah adalah untuk kebaikan dan bukan untuk tujuan lain apalagi memeras.
Ya semoga saja, persoalan ini semakin jelas. Saya tidak mau jagoan jagoan saya ini (Dahlan Iskan dan Sumaryoto) terlihat ‘berseteru’ terlalu lama, menjadi bulan bulanan berita dan dimanfaatkan menjadi pendongkrak rating media.  Allah pasti akan memberikan yang terbaik buat umatnya! Amin…

(Good luck Pa!, Nu2 dan semua keluarga selalu berdoa untuk Papa.)
To be continued…

Author : @WisnuDewobroto
Link : http://www.wisnudewobroto.com/antara-ayah-dan-pak-dahlan/comment-page-1/#comment-32601

@YudiKristianto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s