MENELISIK PROSTITUSI PELAJAR DI KOTA GAPLEK (BAGIAN I)

MENELISIK PROSTITUSI PELAJAR DI KOTA GAPLEK (BAGIAN I)
Senin, 24 Desember 2012 | 14:31 WIB

JIBI / Solo Pos

Dalam beberapa pekan ini, Wonogiri dikejutkan perilaku pelajar yang terlibat prostitusi. Bahkan, seorang anak baru gede (ABG) mengatur rekan-rekannya yang masuk bisnis esek-esek itu.
 
Berbekal data dan informasi dari sejumlah sumber, Espos menemui remaja putri asal Baturetno, Wonogiri, Sabtu (15/12). Mawar [bukan nama sebenarnya] disebut-sebut terlibat dalam terlibat prostitusi yang melibatkan pelajar.
 
Saat Espos ke rumahnya, dia mengenakan celana jeans ketat dan baju berbelahan dada rendah dengan dandanan wajah mencolok: bibir merah dan memakai maskara. Rambutnya lurus sebahu. Kulitnya kuning langsat. Tingginya sekitar 155 cm.
 
“Anda siapa? Kenapa mencari saya?” tanyanya mengawali pembicaraan.
 
Tak berselang lama, remaja berusia 17 tahun itu langsung paham ketika Espos  mengaku sebagai salah satu lelaki hidung belang. “Kita ke warnet saja, yuk,” lanjutnya.
 
Dia tinggal bersama ibu dan adiknya di sebuah rumah berdinding kayu dan berlantai tanah. Ayahnya merantau ke luar Jawa.
 
Sebelumnya, Mawar sempat dipanggil polisi lantaran diduga sebagai aktor di balik pelarian seorang gadis di bawah umur bersama lelaki hidung belang di sebuah hotel di Wonogiri. Kepada Espos, Mawar memang tak menampik dirinya terlibat dalam kasus itu. Namun, ia menolak disebut sebagai muncikari yang mengambil keuntungan atas transaksi ilegal itu.

“Kalau saya muncikari, pasti saya sudah banyak duit. Saya hanya mengenalkan,” kata dia.
 
Selama ini, Mawar mengaku hanya mengenalkan teman-teman perempuan yang merasa kesepian karena tidak memiliki pacar.  “Kalau ada teman saya yang butuh duit biasanya menghubungi saya. Saya langsung kenalkan dengan teman lelaki saya,” jelasnya.
 
Meski demikian, sambung gadis yang hobi balap motor ini, tidak setiap lelaki hidung belang dikenalkan kepada teman-temannya. Ia baru akan mengenalkan temannya setelah mengetahui dengan dekat penggunanya. “Pelanggan itu biasanya sudah kenal dekat dengan saya dan saya tahu jati dirinya secara detail, jadi tidak asal mengenalkan begitu.”
 
Teman-teman Mawar yang dikenalkan kepada lelaki hidung belang rata-rata berstatus pelajar. Namun, para pemakainya dari beragam latar belakang, baik dari Wonogiri maupun luar kota. Sejauh ini, Mawar memiliki lima teman yang biasa dikenalkan kepada lelaki pemburu syahwat.  Mereka  di Baturetno, Eromoko hingga Jogja. Tiga di antara mereka telah dikeluarkan dari sekolah.
 
Di warnet, dia sempat melakukan chatting dengan temannya di Jogja. Dia bahkan memperlihatkan kepada Espos foto-foto vulgarnya.
 
Ditanya soal fee atas jasanya mengenalkan remaja putri kepada lelaki hidung belang, Mawar enggan membeberkannya. Ia hanya menyebutkan tarif kencan tergantung waktu. “Short time Rp800.000, kalau long time Rp1,2 juta,” ungkapnya.

Ada banyak cara yang dilakukan Mawar untuk menarik para lelaki hidung belang. Salah satunya yang paling populer melalui media sosial Facebook. Dari sanalah, segala informasi terkait data diri, nomor telepon bisa didapatkan dan lekas menyebar ke teman-temannya.
 
Pengamatan Espos dari akun Facebook milik Mawar, pertemanan Mawar dengan berbagai orang mencapai 4.240 orang. Dari wall, terbaca setiap status dan foto yang diunggah Mawar dipenuhi komentar yang mengarah pada ajakan perbuatan cabul.
 
Ingin Sekolah

Belakangan ini, ibu Mawar sedih. Putri sulungnya dikeluarkan dari sebuah SMK swasta lantaran tingkah lakunya yang dianggap bikin malu pihak sekolah. Tak hanya itu, warga sekitarnya dibikin meradang lantaran gerah dengan ulah Mawar.
 
“Beberapa waktu lalu, 50-an warga geruduk rumah kami. Mereka merasa risih dengan ulah anak kami,” kata perempuan paruh baya itu dengan mata berkaca-kaca.
 
Yang lebih mengejutkan, muncul kabar putrinya diduga kuat sebagai penyalur para pelajar putri kepada lelaki hidung belang. Meski ia mengakui anaknya tergolong nakal, perempuan itu tetap tak percaya anaknya sebagai pengendali trafficking. “Itu fitnah besar,” katanya sambil menyuapi dua buah hatinya yang masih kecil-kecil.
 
Pegiat LSM Masyarakat Wonogiri Peduli Perempuan dan Anak (MWPPA), Siti Muslimah, menyatakan fenomena tindakan asusila yang merambah Kota Gaplek akhir-akhir ini sudah sampai tahap mengkhawatirkan. Dalam setahun terakhir, kasus tersebut bukan saja mengalami peningkatan, melainkan mengalami ledakan cukup fantastis.
 
“Aparat dan Pemkab tak tegas, kalangan pendidik cuci tangan dan orangtua tak peduli. Ini adalah bom waktu di Wonogiri,” katanya. (redaksi@solopos.co.id) (if)

@YudiKristianto | CEO @SIH_Tour | yudikristianto@hotmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s