Jember Jakarta Long Trip — Berdamai dengan Gajah dan Kota Telor Asin – Part 2 End

Menyambung guratan perjalanku ke Jember dalam episode Berdamai dengan Gajah dan Kota Telor Asin part1 beberapa waktu lalu. Kali ini adalah kisah perjalannku kembali ke Ibu Kota Negara tempat tumpuan orang berusaha bertahan hidup walau terkadang tak semulus yang diharapkan, bahkan ada yang beranggapan nahwa Ibu Kota terasa lebih Kejam daripada Ibu Tiri.
 
Sabtu, 2 Juli 2011
Takut akan nasibku kehabisan ticket seperti tanggal 29 Juni yang lalu, istriku langsung membelikan ticket PO. Safari Dharma Raya untuk balik ke Jakarta, dan memang benar ternyata sat itu hanya tinggal tersisa 2 seats no 31 dan 32 alias samping toilet J
 
Hari itu memang terasa lebih santai dari hari-hari biasanya saya balik ke Jakarta, ya karena saya tidak perlu datang kea gen Jember, sebab ticket sudah di tangan dan sudah minta izin pula ke agen untuk menunggu bis di depan rumah jadi lumayan menambah sisa waktu bersama istri dan keluarga di rumah.
 
Siang itu mendapat kabar dari Agen Jember bahwa bis berangkat terlambat dari biasanya, jadi sekitar jam 1 siang bis baru diperkirakan sampai Tanggul. 30 menit sebelumnya saya sudah siap di depan rumah ditemani istri dan ayah mertua menanti bis yang akan mengantarku ke Jakarta. Setelah menunggu sekitar 20 menit saya dikabari oleh Agen bahwa bis sudah sampai Tanggul ber nopol B7168LZ dan saya jawab bahwa saya sudah siap di pinggir jalan. Benar juga tak beberapa lama setelah telpon saya tutup terlihat di kejauhan Sosok berwarna Hijau tanpa Kolor ber nopol B7168LZ memberikan lampu hazard, langsung saja kulambaikan tangan memberikan isyarat.
 
Sementara saya berpamitan dengan istri dan ayah mertua, sang kenek membantu menaikkan barang bawaanku ke bagasi dan mengantar tasku ke tempat duduk hhmmmm crew yang baik hati memang hehehehehe…. Tak menunggu lama sayapun menaiki kabin Sang Gajah, tak lupa kulambaikan tangan kepada istri dan ayah mertua, terasa kurang ikhlas hati ini meninggalkannya namun apa daya diri ini, sudah menjadi resiko yang harus kujalani dengan penuh rasa ikhlas dan tanggung jawab. Dalam hati ini berjanji, “ Istriku, percayalah suatu saat nanti pasti kita akan bisa hidup bersama, biarlah saat ini kita berpisah untuk beberapa waktu, selagi Cintamu masih menemaniku, Aku akan terus Kuat untuk menjalani semua ini”
 
Kusandarkan punggung ini pada kursi beludru buatan Karya Logam, sempat heran juga OBL menggunakan produk Karya Logam, namun saya malah bersyukur, akhirnya walau duduk di belakang sedikit lebih nyaman karena menurut saya seats Karya Logam lebih empuk dan tebal dibanding HAI. Entah kebetulan atau tidak dua kali naik Gajah sama-sama menggunakan seats Karya Logam.

RM Panorama Jaya, Probolinggo

RM Panorama Jaya Probolinggo

RM Panorama Jaya Probolinggo

Perjalanan sepanjang Tanggul hingga Probolinggo kunikmati saja sambil ber sms dengan istri tercinta dan mencoba beradaptasi dengan deru mesin Sang Gajah Kebayoran ini. Tak terasa satu setengah jam berlalu dan Sang Gajah saatnya beristirahat di RM Panorama Jaya, Probolinggo.
 
Seperti biasa, kusempatkan sholat Dzuhur sekalian jama’ Ashar terlebih dahulu. Alhamdulillah, sejuknya air wudhu memberikan rasa sejuk di tengah-tengah cuaca Kota Probolinggo siang itu yang cukup panas. Setelah menunaikan kewajiban yang tak boleh ditinggalkan, saya bergegas untuk menukarkan kupon makan dengan menu khas PANORAMA JAYA. Sudah kuduga, menunya adalah Nasi Putih, Mie Goreng, Telor Balado, Sayur Sop dan Teh Setengah Manis J memang untuk menu makan sangat kurang variasi dari dulu sampai sekarang pasti itu-itu saja menunya hehehehehe….
Tak apalah, kusyukuri dan kunikmati saja menu yang telah disiapkan oleh para Pramusaji yang cantik-cantik insya allah berkah sampai ke Jakarta.
 
Selesai makan kusempatkan untuk sedikit mengambil dokumentasi perjalananku bersama Gajah Kebayoran. Sempat bingung juga saat mengetahui Sosok Gajah yang terparkir di halaman RM Panorama Jaya tersebut, dashboard plus stir wheel khas Mercy Oh1521, namun jika dilihat dari over hang depan lebih panjang dari seharusnya.

PO Safari Dharma Raya

PO Safari Dharma Raya

Setelah ku foto-foto langsung saja kuhampiri “Pak Supir  yang lagi ngaso” namanya Pak Sudarmono, setelah sedikit ber basa-basi akhirnya kutanyakan juga rasa penasaranku tadi. Ternyata Gajah Kebayoran yang kunaiki ini berdapur pacu Yuchai yang dibangun di atas chasis Mercy OH1521 yang telah disambung chasis dengan balutan body Travego Morodadi Prima. Wah Gado-Gado ternyata, semakin membuat penasaranku naik saja nih Si Gajah xixixixixixi…
 
Bersabar dengan kemacetan
Waktu istirahat dirasa cukup, seluruh penumpang diminta segera menempati tempat duduknya masing-masing. Kali ini Gajah dikusiri oleh Mas Sumarno, karakternya berbeda sekali dengan Pak Sudarmono, seakan sengaja berusaha memaksimalkan tenaga mesin dari negeri Tirai Bambu ini, Pak Sumarno memacu Sang Gajah namun sedikit kasar, terbukti baru kurang dari 1 jam dia mengusiri Gajah ini sudah membabat Spion Truck Box ISUZU dan menyerempet Dump Truck, namun sepertinya si Gajah cuek-cuek Gajah saja terbukti dia tidak berhenti sedikitpun berusaha menyelesaikan yang telah terjadi. Wah kacau juga nih supir dalam hatiku berkata, mudah-mudahan saja selamat sampai Jakarta.
 
Memasuki Kota Pasuruan, kemacetan mulai menghadang, lagi-lagi Gajah tidak mau bersabar,  bahu jalan yang tidak beraspal pun dijadikan jalan dan al hasil, penumpang yang duduk di belakang termasuk saya yang duduk di seats no 32 menjadi bulan-bulanan…
 
Akhirnya perjuangan tidak sia-sia, Sang Gajah berhasil keluar dari kemacetan dan langsung ngacirr….. hiburan selama perjalanan sepanjang Waru hingga Gresik adalah iring-iringan Bus Pariwisata beraneka warna, yang paling menarik bagi saya adalah iring-iringan Scorpion King Madu Kismo dan Nur Shinta Abadi.
 
Selepas terminal Bunder, kemacetan kembali menghadang, kali ini disebabkan dengan adanya penyempitan jalan akibat proyek perbaikan dan pelebaran ruas jalan yang mengharuskan berjalan saling bergantian. Walau tak sepanjang di Pasuruan namun cukup menyita waktu juga, karena terbukti selepas maghrib bus baru memasuki kota Lamongan, tidak seperti biasanya yang sudah hampir memasuki kota Tuban.
 
Menyapa senja kota Lamongan berlomba bersama Pahala Kencana dan KARINA, sang Gajah seolah tak mau menjadi nomor 3 dia terus mengejar dua rivalnya, namun memang saya acungi jempol ketangguhan mesin Yuchai ini, PK Marcopolo RK8 dilewati tanpa ada perlawanan sedikitpun begitu juga dengan KARINA MB1521 AP Setra.
 
Memasuki kota Tuban Sang Gajah hanya berteman dengan iring-iringan truck yang memaksa sang Gajah Yuchai ini mengambil posisi jalur kanan beberapa kali untuk mempercepat jalannya.
Perut ini beberapa kali mengetuk memberikan isyarat waktunya diisi, namun perjalanan masih kurang lebih satu jam lagi. Akhirnya jam setengah sepuluh malam Pak Sumarno menambatkan Gajahnya di RM MITRA. Biasanya kondisi normal, OBL memasuki RM MITRA sekitar jam 8-8:30 malam. Seperti biasa rutinitas ke Toilet ku dahulukan dilanjut dengan membayar hutang Maghriban dan disambung Isya’. Nah perlu saya infokan juga, menu RM MITRA ini juga tidak kalah monotonnya dengan RM PANORAMA JAYA, pasti Ayam Opor, Tahu Kuning, Mie Goreng J Ya cukup wajar lah, dengan bandrol harga ticket Rp. 250,000 mendapat service makan 2 kali, murah koq mau enak xixixixixixii….

Setelah menikmati makan malamku, sejenak saya menikmati udara malam sambil mataku tertuju pada sosok Kuning yang terparkir di sebelah Gajahku. Yah, sosok itu adalah Sang Hantu Laut yang baru datang dari Malang. Gajah Kebayoran ini berbalut body Monocoque by Adi Putro. Tidak berselang lama disusul Kramat Djati Marcopolo Malang juga.

OBL Hantu Laut

OBL Hantu Laut

 

Gajahpun berlari asyik…
Tidak ingin terlalu siang sampai Jakarta, Si Gajah Yuchai pun segera meninggalkan kawan-kawannya di RM MITRA. Nah anehnya, kusirnya belum mau diganti, Pak Sumarno lah yang masih memegang kendali si Gajah Yuchai ini dan Pak Sudarmono kembali bobok manis di peraduannya J
 
Tidak seperti seminggu sebelumnya, malam itu lalu lintas Pati – Semarang lancar, namun yang membuat sedikit lama adalah adanya acara mampir dulu ke rumah Pak Sumarno untuk menjemput adiknya, hehehehe koq bisa ya? Malam itu si Gajah diparkirkan di halaman samping rumahnya, cukup lama juga sih ada sekitar 15an menit menunggu. Tak berapa lama, Pak Sumarno menghampiri Pak Sudarmno yang sedang tidur untuk membangunkan, ternyata Peraduan Pak Sudarmono akan ditempati oleh adik perempuan Pak Sumarno. Setelah proses penjemputan selesai perjalananpun dilanjutkan dengan Sosok Wanita yang duduk manis di belakangku J
 
Si Gajah mulai berbeda jalannya, ternyata memang benar saat ini Pak Sudarmonolah yang pegang kemudi, sedangkan Pak Sumarno berbincang sebentar dengan adiknya lalu tidur di depan toilet. Nah pintu belakang OBL tangganya diberi papan, sehingga menjadi rata dengan lantai dan digelari kasur. Selain Pak Sumarno juga ada 2 orang penumpang yang tidak kebagian kursi. Baru kali ini saya menemui suasana bis malam executive seperti itu xixixixixixi… jadi saat itu jumlah penumpang Gajah Yuchai adalah 35 orang ditambah 3 crew, dengan 32 tempat duduk penumpang weleh weleh….
 
Minggu, 3 Juli 2011
Pekalongan mBrebes mili…

Entah jam berapa saya sampai di Pekalongan, namun pastinya sudah berganti tanggal dan kemacetan panjang menanti di depan. Banyak petugas ramai mengatur kemacetan yang ternyata disebabkan oleh kecelakaan truck terbalik. Kulihat di seberang tampak parade bus malam dari arah Jakarta mulai berseliweran. Mendapat info ekor kemacetan yang sangat panjang, diputuskan oleh Pak Sudarmono untuk menepi di bahu jalan, tentunya sebelumnya meminta izin dahulu kepada Bapak yang berseragam coklat malam itu J Yah malam itu kami tertidur di Pekalongan kurang lebih 3 jam hehehehehe…
 
Pagi hari memasuki kota Tegal diiringi Sang Fajar yang mulai menghangatkan bumi, aktifitas perekonomian kota Bahari pagi itu sudah cukup ramai yang membuat Sang Gajah harus sedikit bersabar ketika melintasi pasar dan lampu pengatur lalu lintas di beberapa titik.
 
Terdampar di Kota Telor Asin
Perjalanan Tegal – Brebes terbilang lancar, lalu lintas pagi itu diramaikan oleh parade Dewi Sri, Dedi Jaya dan Sinar Jaya. Sang Gajah yang di kusiri oleh Pak Sumarno tetap melaju dengan kecepatan tinggi dan semua penumpangpun termasuk saya berharap agar tidak kterlalu malam sampai di Jakarta.
 
Beberapa saat memasuki kota Tanjung, Brebes tiba-tiba di saat bis melaju dengan kecepatan tinggi terdengar bunyi benturan benda keras di bawah body, kontan saja penumpang yang sebagian tertidur dikagetkan dengan bunyi tersebut yang terdengar cukup keras, termasuk Pak Sudarmono yang sedang tertidur di kasur depan toilet. Kulihat jam pada layar HP menunjukkan pukul 07:40 “Duh opo maneh iki? Koq yo ono-ono wae”
 
Perlahan setelah bis dipinggirkan, saya mencoba ikut turun juga dengan beberapa penumpang lainnya, berusaha ingin tahu sekiranya apa yang terjadi. Saat itu saya melihat seonggok Cross Joint yang patah, jika dilihat dari tingkat keausannya, sepertinya sudah lama termakan namun tetap dipaksakan jalan. Segera kuhampiri Pak Edi selaku kenek, kutanyakan apa yang mau dilakukan oleh crew. Dijawab olehnya mau diperbaiki, kutanya apa ada Parts cadangan ntuk cross joint tersebut, dijawab tidak ada nanti kita belanja dulu. Ok, akhirnya kami sepakat menunggu beberapa waktu dengan harapan crew akan memperbaikinya. Memang waktu itu crew dibantu oleh Mekanik PO Dedi Jaya, karena kita berhenti pas setelah PO Dedi Jaya, sekitar 4KM sebelum masuk Tol Pejagan.

OBL Patah Cross Joint

OBL Patah Cross Joint

Cross Joint OBL

Cross Joint OBL

Jam menunjukkan pukul 9 pagi, namun belum ada tanda-tanda kerusakan segera diperbaiki. Kuarahkan crew lapor kantor saja agar dapat segera diambil tindakan, namun crew menolak karena akan sia-sia jadi percuma telp kantor. Akhirnya saya inisiatif telp Mas Budi Kurniawan, selaku Duta PO OBL memberikan informasi kejadian yang menimpa Si Gajah dan meminta untuk menghubungi pihak yang berwenang di OBL agar ada solusi untuk permasalahan ini karena saya lihat crew sangat lamban dalam menangani masalah, terbukti di saat penumpang kebingungan crew malah asyik-asyik makan sate di RM Tanjung Sari. Ini yang membuat saya dan penumpang lainnya semakin jengkel. Kami minta dicarikan bis operan malah disuruh cari sendiri, waduhhh pelayanan seperti apa ini yang diberikan oleh OBL.

Terlantar di Pinggir Jalan

Terlantar di Pinggir Jalan

Menjelang pukul 11 saya putuskan menghubungi kantor OBL Kebayoran Lama, untuk melaporkan kejadian ini, namun ternyata pihak kantor Kebayoran belum menerima laporan dari Crew mengenai kerusakan yang terjadi. Waktu itu saya diberi no telp Garasi oleh pihak Loket untuk melaporkan kejadian yang menimpa kami. Memang bener adanya, pihak Garasipun belum menerima laporan dari crew yang bertugas saat itu.
 
Beberapa rekan sesame OBL silih berganti berhenti namun hanya sekedar tahu saja lalu melanjutkan perjalanan, tak satupun penumpang B7168LZ dapat operan karena memang okupansi penumpang saat itu full seats bahkan over. Sempet saya beberapa kali menyetop Dedi Jaya dan Dewi Sri juga penuh, akhirnya saya kembali pasrah dengan keadaan dengan harapan ada itikad baik dari Gajah Kebayoran ini.
 
Tak ada gunanya saya melawan keadaan ini, toh memang dari management OBL sendiri sudah telat mendapat laporan dari Crew yang bertugas, jadi saya kembali berdamai dengan Kota Brebes. Info yang saya dapat Parts Cross Joint dibawakan dari kantor Semarang juga Mekanik dari Semarang yang baru tiba di TKP sekitar jam 15:30 sore. Proses pemasangan sendiri hanya memakan waktu 1 jam hingga jam 17 Si Gajah akhirnya siap melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Perbaikan oleh Mekanik dari Semarang

Perbaikan oleh Mekanik dari Semarang

Yuchai Engine OBL

Yuchai Engine OBL

Hasrat untuk segera tiba di rumahpun pupus, seakan-akan ikut terdampar di Kota Tanjung, Brebes. Saya pasrah entah jam berapapun nanti tiba di Jakarta. Memang waktu itu kami mendapatkan tambahan 1 kali service makan lagi di kawasan Tanjung juga. Namun bukan seperti ini yang seharusnya diberikan oleh OBL, setelah membiarkan penumpang terlantar seharian dari jam 07:40 – 17:15. Padahal yang diinginkan penumpang tidaklah terlalu berat menurut saya bagi OBL, hanya minta segera dicarikan bis pengganti, tidak harus yang sama yang penting penumpang bisa diangkut sampai Pool Kebayoran Lama, itu juga yang disarankan oleh crew-crew OBL lainnya yang sempet berhenti yang diabaikan oleh Crew OBL B7168LZ. Malah yang membuat saya semakin kurang respect dengan Crew saat setelah di telp Pak Budi, mengumpat penumpang yang melapor dan menuduh beberapa penumpang Ibu-Ibu yang beberapa kali menanyakan perkembangan ke crew. Padahal jelas-jelas kesalahan Crew kenapa malah bisa-bisanya menyalahkan Penumpang yang posisinya dirugikan saat itu.
 
Lagi-Lagi Harus Sabar
Baru beberapa saat memasuki tol Pejagan, tiba-tiba suhu kabin terasa hangat dan alamakkk AC nya mati L bis sempat mau menepi namun oleh salah satu penumpang berteriak “ Wes orasah nggawe AC, terus mlaku wae wes kelewat telat iki” sayapun ikut merasakan kekesalan yang dirasakan Bapak tersebut. Namun kesabaran kami tidak hanya sampai di sini, di Indramayu kemacetan panjang menghadang, bis executive pun berubah rasa menjadi Non AC Executive. Karena suhu semakin panas dan kemacetan panjang masih menghadang, crew memutuskan untuk memperbaiki AC. Kurang lebih 1 jam Pak Edy bersama Mekanik dari Semarang memperbaiki AC dan Alhamdulillah berhasil diperbaiki sehingga status Gajah kembali ke AC Executive J memang Minggu 3 Juli 2011 merupakan puncaknya long weekend dan ditambah adanya perbaikan ruas jalan di beberapa titik mengakibatkan kendaraan harus bergantian melintas dengan system buka tutup.
 
Senin, 4 Juli 2011
Jam 00:20 Gajah Yuchai memasuki gerbang Tol Cikampek, kemacetan ternyata masih mengekor sampai Cikarang. Akhirnya sekitar jam 03:30 Gajah Kebayoran ini memasuki Pool nya di Kebayoran Lama, di sini sudah siap berjajar Carry-Carry OBL untuk mengantarkan penumpang sesuai tujuannya masing-masing. Tak menunggu lama, setelah saya merapikan barang bawaan, sayapun bergegas menaiki Carry yang akan mengantarku hingga rumah. Perjalanan panjang yang sangat melelahkan, namun lagi-lagi, saya tidak akan kapok melakukan rutinitas ini, mungkin memang saat itu saya lagi dapat pahitnya namun saya yakin pasti manisnya touring lebih banyak akan kudapatkan. Terima kasih kepada rekan-rekan BMC yang sudah berkenan saya repotkan waktu itu, khususnya Mas Budi Kurniawan dan Pak Ketum Wahyudi Irianto.
 
Best Regards,
 
Yudi Kristianto

http://m.facebook.com/note.php?note_id=10150238935727078&refid=21

@YudiKristianto | CEO @SIH_Tour | yudikristianto@hotmail.com

2 thoughts on “Jember Jakarta Long Trip — Berdamai dengan Gajah dan Kota Telor Asin – Part 2 End

    • Iya mba’, terima kasih sdh kerso mampir dan memberi comment. Sebetulny msh ad bbrp kejadian lagi mba yg blm sempet saya tulis mengenai buruknya pelayanan Bus Malam Safari Dharma Raya divisi Jakarta khususnya. Mungkin kalau Pak Budi OBL Jakarta membaca tulisan saya ini Beliau akan ingat karena waktu itu Beliau lah yang bolak balik saya hubungi saat OBL trouble d jalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s